
Pangeran Ario Diponegoro, satria pahlawan yang gagah berani, yang terkenal dalam sejarah perjuangan melawan penjajah Belanda, telah lama memperhatikan gerak-gerik serta sifat-sifat muslihat kelicinan dan watak rakus angkara murka dari penjajah, tindakannya yang sewenang-wenang, melihat cara memecah-mecah adu domba terhadap pemimpin-pemimpin kerajaan, melihat pula kesengsaraan dan kemiskinan rakyat yang makin lama makin tak tertahan lagi, jiwanya makin lama makin benci dan menjala laksana api didalam sekam, kemudian memberontaklah Sang Pangeran dan memutuskan untuk menghancurkan kekuasaan penjajah dari persada tanah air (1825).Putusan pemberontakan ini kemudian dibantu oleh kerabat keluarga raja yang lain, ialah Pangeran Ario Mangkubumi (dikenal djuga sebagai Kandjeng Panembahan Mangkurat), Basah Sentot Prawirodidjo, Basah Kusumonagoro, Kjai Modjo dan beberapa Kiai lainnya. Inilah suatu tanda mulainya zaman baru untuk menjunjung tinggi rasa cinta terhadap tanah-air dan bangsa.
Peperangan pemberontakan Pangeran Diponegoro ini berlangsung selama 5 tahun. dengan menghancurkan banyak serdadu-serdadu Belanda, merampas senjatanya, dan merebut daerah-daerah yang diduduki oleh Belanda seluruh Djawa Tengah. Seandainya Belanda tidak menggunakan akal licik, maka kekuasaannya mungkin bisa musnah dari tanah air kita.
Tetapi apa yang akhirnya terjadi? Jendral De Kock penguasa Belanda disini, dengan jalan daya upaya yang sangat licik berhasil membujuk Sang Pangeran Diponegoro untuk menghentikan tembak-menembak dan mengajak berunding menuju kesuatu perjanjian perdamaian. Syarat-syarat perundingan ditentukan bahwa selama perundingan berlangsung, tiada suatu tindakan akan dilakukan oleh pihak tentara Belanda atas pihak Pangeran Diponegoro. Akan tetapi dasar watak pengecut dan tidak jujur, ketika Sang Pangeran memenuhi ajakan untuk perundingan perdamaian yang diadakan di rumah Residen di Magelang, tindakan Belanda pertama melucuti pasukan pengiring Sang Pangeran, dan setelah para pengawal ini tidak berdaya, Sang Pangeran ditangkap dimasukkan dalam tahanan. Peristiwa ini terjadi pada tanggal 28 Maret 1830. Kemudian beliau diangkut ke Jakarta, selanjutnya diasingkan ke Menado yang akhirnya di Makassar sampai mangkatnya
Cara penangkapan yang sangat licik dan pengkhianatan terhadap Sang Pangeran ini, sangat melukai hati rakyat Indonesia umumnya dan rakyat Jogjakarta turun-tumurun, yang tak akan dapat dilupakan selama-lamanya.
Setelah Sultan Hamengku Buwono V mangkat, maka berturut-turut Jogjakarta berganti-ganti naik tahta, Sultan Hamengku Buwono VI (1855), Sultan Hamengku Buwono VII (1877), Sultan Hamengku Buwono VIII (1921), dan Sultan Hamengku Buwono IX yang sekarang ini naik tahta pada tahun 1940.
Posting Komentar