Sejarah Kerajaan Jambi Abad XI

Pada abad XI, Jambi pernah menjadi pusat kerajaan maritim terbesar di Nusantara. yaitu maritim Sriwijaya-Hindu sebelum Islam masuk. Namun ketika pusat kerajaan dipindahkan, nama Jambi seakan-akan hilang dari catatan sejarah dan menyebabkan Jambi menjadi daerah yang kurang menguntungkan, tidak cuma itu wilayah inipun menderita ketidaksinambungan sejarah.

Proliferasi perdagangan di Indonesia bagian Barat selama abad XVI menimbulkan keuntungan tersendiri bagi Jambi karena menimbulkan kecenderungan ke arah konsentrasi di beberapa pusat, yaitu Aceh, Johor, Jambi, Palembang dan Banten. Pada abad ini perdagangan lada mendatangkan keuntungan yang sangat besar. Dan Jambi yang terletak di sekitar sungai Batanghari menjadi pelabuhan transit perdagangan lada.

Bagi Jambi lada yang dibawa dari Minangkabau menyusuri sungai Batanghari memang sangat berarti, tanpa lada Jambi bukanlah tempat yang berarti, karena Jambi tidak mempunyai apapun untuk ditawarkan ke dunia international. Ini terbukti ketika selama kurang lebih dua tahun berturut-turut orang Minang tidak datang ke Jambi menyebabkan daerah ini sepi dari perdagangan.

Jambi — secara politik — pernah masuk pengaruh Mataram, inipun merupakan hal yang sangat menguntungkan bagi Jambi karena status ini berfungsi sebagai perisai terhadap ekspansi Banten vang sangat berpengaruh di Palembang. Karena Palembang masih menaruh perhatian kepada hubungan dengan Mataram. Disamping itu Jambi juga menghadapi ekspansi Johor dan Aceh. Untuk menghadapi ancaman yang tak kunjung reda itu, Jambi harus melindungi diri dengan persekutuan — yang selalu berubah-ubah — dengan kerajaan-kerajaan yang ada di sekitarnya.

Dalam pemerintahan kerajaan Jambi terdapat keunikan tersendiri, karena adanya raja 'yang tua', yakni Sultan dan Raja 'yang muda', yakni Pangeran Ratu sebagai ahli waris tahta kesultanan yang selaiu diambil dari anak Sultan yang terdahulu, masing-masing mereka memiliki daerah perlindungan dan pendukung di pedalaman dan mempunyai tanda kebesaran sendiri.

Jaman keemasan dan kemunduran merupakan dua sisi dari masa berlangsungnya suatu kerajaan yang menjadi ajang perbandingan dalam kelancaran dan kesuksesan kepemimpinannya, ini bisa dilihat dan berbagai segi, baik segi: politik, ekonomi, sosial maupun budaya.

Kedatangan bangsa asing ke wilayah Nusantara memang mampu menyemarakkan kehidupan perdagangan di nusantara, namun kerugian vang diderita pun lebih banyak lagi. Bangsa-bangsa Eropa yang telah mengetahui wilayah Nusantara sebagai daerah vang menghasilkan komoditi yang laku keras di pasaran internasional (lada) datang ke Nusantara dan berusaha untuk menguasai perdagangan. Karena cita-cita yang tidak sehat inilah timbul reaksi-reaksi dari kerajaan-kerajaan yang ada di Nusantara dalam bentuk perlawanan menentang monopoli armada perdagangan Eropa itu walaupun akhirnya mereka kalah.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama