Serawak Kedua? Kisah Sultan Ismail, Politik Tidak Campur Tangan dan Bangkitnya Perkebunan (Mukjizat Deli)



Serawak Kedua? Kisah Sultan Ismail, Politik Tidak Campur Tangan dan Bangkitnya Perkebunan (Mukjizat Deli)


Pada tahun 1856 di Singapura muncul Sultan Ismail dari Siak, kerajaan yang besar tetapi kacau di Sumatera Timur, yang hendak meminta bantuan Inggris untuk mengatasi salah satu kesulitan penggantian mahkota menghadapi kakandanya, Tengku Putra. Walaupun tidak banyak lagi yang akan diserahkannya selain dari hak-haknya sendiri yang dipertaruhkannya, sebagai imbalan untuk bantuan yang diterimanya, Ismail bersedia "mempersembahkan kerajaannya kepada Inggris", demikianlah menurut rumusan tradisional. Namun, gubernur Singapura tetap setia pada politik tidak campur tangan dan berpegang pada Traktat London Inggris-Belanda tahun 1824. Kalangan swasta di Singapura tidaklah seteguh itu pendiriannya. Dengan bantuan keuangan dari sejumlah usahawan (tidak diketahui apakah Read termasuk di dalamnya) seorang Inggris bernama Wilson mengerahkan tentara yang besar sekali jumlahnya. Belum pernah ada tentara demikian besar dikerahkan untuk kepentingan swasta di Nusantara. Pimpinannya enam orang Eropa, pasukan utamanya terdiri dari perompak-perompak Bugis. Contoh keberhasilan yang diperoleh James Brooke di Serawak membuat orang mengharapkan hasil yang baik sekali dalam gerakan ini. Wilson mengangkut pasukannya ke Siak, Tengku Putra dapat dikalahkannya dan dengan demikian posisinya menjadi kuat dalam menghadapi Ismail. Ketika Wilson mulai memajukan tuntutan yang semakin lama semakin tinggi, bahkan mengusir sang sultan dari wilayahnya, tiba-tiba saja Ismail dan Putra teringat pula kepada peristiwa Serawak, berdasarkan perjanjian-perjanjian Kompeni yang lama mereka bersama-sama meminta perlindungan Belanda. Dan benarlah, Batavia pun telah menarik pelajaran dari Serawak. Residen Riau dikirim ke Siak untuk mendamaikan kedua bersaudara itu serta membuat perjanjian persahabatan, yang menghasilkan keuntungan-keuntungan dagang bagi Belanda. Wilson berusaha mendapatkan bantuan baru di Singapura. Ketika hal ini tidak berhasil, dia pun bertahan di Pulau Bengkalis. Batavia mengirimkan sebuah kapal perang. Wilson berangkat dan Sultan jadi juga kehilangan kerajaannya, karena pada tahun 1858 kerajaannya ini dipersembahkannya kepada Belanda. Maka, orang-orang sesama bersaudara janganlah bertikai. Sekaligus Belanda telah meluaskan 'tampuk kedaulatannya' (opperhoogheid demikian istilahnya masa itu) di Sumatera praktis atas seluruh pesisir timur, mulai dari Langkat, Deli, dan Asahan di utara sampai ke Sungai Kampar di selatan - di seluruh pantai di seberang Malaka kecuali Aceh Di Den Haag, seperti juga di Batavia, orang menyadari bahwa tanpa tindakan ini, Siak pastilah akan menjadi Serawak kedua. Tetapi agar tidak sampai merangsang Inggris, orang bertindak hati-hati sekali. Aceh mempunyai tuntutan-tuntutan tertentu, tidak terhadap seluruh Siak, tetapi juga atas kesultanan-kesultanan perbatasan di utara, dan dengan demikian mungkin perjanjian Belanda dengan Sultan Ismail dianggap merupakan pelanggaran terhadap Traktat London tahun 1824. Baik gubernur Singapura maupun pemerintah di London tidak sampai menganggap demikian, tetapi pengusaha-pengusaha Inggris dan Cina melakukan kampanye pers yang hebat, sampai-sampai terdengar ke Majelis Rendah. Suasana dipenuhi kerusuhan Sumatera yang terkenal. Untunglah, tampaknya gubernur Sumatera Barat (Padang) yang penuh kebijaksanaan, Jenderal J. van Swieten, berhasil mengatur hubungan dengan Aceh. Sebelum perjanjian dengan sultan Siak dibuat, dia (pada bulan Mei 1857) telah menandatangani perjanjian dengan Aceh yang menyatakan bahwa pelbagai keluhan tentang terjadinya tindakan-tindakan perompakan oleh orang Aceh dan ekspansi oleh pihak Belanda sama-sama akan diselesaikan. Selanjutnya akan terdapat perdamaian, persahabatan, dan perdagangan bebas. Barangkali Singapura maupun Aceh beres lah keadaannya, seandainya Batavia benar-benar berpegang kepada pernyataan-pernyataan penting tentang politik tidak campur tangan, yang disuruh mengirim Menteri Loudon pada tahun 1861 dari Den Haag. "Setiap perluasan kekuasaan kita di Nusantara saya anggap sebagai satu langkah lebih dekat pada keruntuhan kita", ditekankannya benar-benar dengan meminta perhatian Gubernur Jenderal. Tetapi di pihak lain Den Haag lah yang senantiasa mengharapkan sumbangan-sumbangan keuangan yang kian besar jumlahnya dari Hindia Belanda. Di beberapa tempat di Pantai Siak muncul kantor-kantor pabean, dan berangsur-angsur seluruh Siak pun dimasukkan ke dalam daerah pabean Hindia Belanda. Pada umumnya bea masuk dalam sistem tarif Hindia yang berlaku untuk orang asing dua kali lipat lebih tinggi dibandingkan dengan yang berlaku untuk orang Belanda (pada kain-kain penting umpamanya 12,5% untuk Twente lawan 25% untuk Lancashire), dan walaupun sesudah pihak Inggris melakukan protes sengit, tarif ganda mula-mula diturunkan dan kemudian dinyatakan tidak berlaku di Siak, cukai-cukai pabean di Sumatera Timur menjadi jauh lebih tinggi daripada yang sebelumnya ketika Sultan belum meminta tampuk kedaulatan siapa pun juga. Ketika diketahui bahwa Belanda benar-benar bertindak di Siak, setidaktidaknya dalam bidang ekonomi, buyarlah pula perdamaian dan persahabatan dengan Aceh. Pada tahun 1862 tampil residen Riau, yang untuk sementara ditugasi memerintah Riau, di kerajaan-kerajaan kecil di wilayah perbatasan Siak dengan Aceh. Ia berusaha membujuk mereka agar dengan jelas mengakui sultan Siak sebagai yang dipertuan, yaitu menerima "tampuk kedaulatan" Belanda. Aceh menjawab dengan mengirimkan sebuah armada perang kecil. Perang Aceh jelas membayang sudah. Dari ketiga orang sultan yang terpenting (Deli, Asahan, dan Serdang) ternyata hanya seorang yang benar-benar bersedia bergabung pada Belanda, yaitu Sultan Deli. Dia tidak mengakui Aceh maupun Siak, dan sebagai hadiah akan bantuannya dia memperoleh hak berhubungan langsung dengan Batavia. Ketika itu tahun 1863. Masa tidak campur tangan telah lampau. Menteri Loudon digantikan oleh seorang liberal yang lain, yaitu seorang tiran penguasa kolonial, I.D. Fransen van de Putte. Sebagai bekas pengontrak gula di Jawa, dia telah mengalami sendiri adanya rintangan-rintangan yang dilakukan oleh birokrasi Hindia dan Tanam Paksa terhadap kewiraswastaan yang bebas di Jawa. Selama tiga kali menduduki jabatan menteri, dia belum berhasil menghapuskan Tanam Paksa, tetapi di daerah-daerah 'baru' tangannya tidak terikat. Sesudah hubungan-hubungan dengan Deli diatur, tampillah di sana seorang pengusaha perkebunan tembakau dari Jawa, J. Nienhuys, yang memperoleh keterangan dari seorang Arab di Batavia tentang kemungkinan-kemungkinan yang terdapat di kerajaan ini. Dia diberi konsesi oleh Sultan Mahmud dengan syarat-syarat yang sangat menguntungkan. Mula-mula, dia hanya perlu membayar lima puluh sen tiap pikul dari enam puluh kilo tembakau yang diekspor, padahal harga pelelangan di Negeri Belanda bisa diharapkan sampai kira-kira satu gulden tiap kilo, tentunya kalau harga tembakau Jawa boleh digunakan sebagai ukuran. Keadaannya menjadi lain sekali. Maka, terjadilah mukjizat Deli. Lima puluh kemasan pertama tembakau Deli dipasarkan di Negeri Belanda pada tahun 1864. Hasil ini dilelang dengan harga 48 sen setiap pon, menurut harga di Jawa, tetapi dengan terus dijual selanjutnya barang yang sama menghasilkan f 1,50 setiap pon. Ternyata, mutunya cemerlang. Pada tahun 1865, ketika telah terkenal baik di pasaran, harga pelelangannya serta-merta sudah f 1,49. Ini merupakan harga tertinggi yang tercapai selama abad ke-19. Deli benar-benar jadi sensasi. Pada tahun 1870 didirikanlah Deli Maatschappij, perusahaan perkebunan pertama yang 'modern' di Hindia Belanda: sebuah NV yang direksinya tidak berkedudukan di Hindia, tetapi di Amsterdam. Pergeseran kekuasaan yang penting artinya, yang dimungkinkan oleh hubungan lewat Terusan Suez, yang dibuka setahun sebelumnya, dan kabel telegraf yang baru dari Batavia lewat Muntok, ke Singapura dan Eropa. Pada tahun pertamanya NV baru itu mengeluarkan 200% dividen, pada tahun kedua 330%, pada tahun ketiga 1.300%. Deli Maatschappij memberi keuntungan yang baik bagi para pemegang saham dan pegawai stafnya. Dibandingkan dengan apa yang dapat dicapai oleh pengusaha tipe baru ini, apa yang diperoleh petualang masa dulu hanyalah permainan anak-anak saja. Perkembangan Deli dan daerah sekitarnya luar biasa cepatnya, hingga dalam waktu singkat tercipta keadaan-keadaan Timur Liar yang tiada terlukiskan, merupakan dorongan terkuat yang dapat dibayangkan, untuk menghapuskan Tanam Paksa. Barangsiapa bisa menghitung dengan angka-angka Deli, tidak perlu lagi mempersoalkan saldo laba. Masih sebelum Terusan Suez dibuka, zaman baru telah menyatakan dirinya di Kepulauan Hindia, di Singapura, dan di Pinang. Karena letaknya di seberang sana, setidak-tidaknya Pinang dan Singapura - seperti juga Batavia - terlibat dalam perkembangan Sumatera Timur. Dalam perkembangan pantai utara Sumatera pun, Aceh kiranya tidak berbeda halnya.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama