Menurut sumber-sumber sejarah pribumi, pada abad ke-XVI di pesisir utara tanah Jawa telah terdapat sejumlah kota yang memiliki banyak penduduk Tionghoa dan di antara mereka itu banyak yang memeluk agama Islam dan memakai nama-nama Jawa. Dalam Serat Kandaning Ringgit Purwa Naskah KBG Nr 7 misalnya kita jumpai penuturan, pada masa pemerintahan Panembahan Jimbun alias Raden Patah, di Demak telah berdatangan banyak orang Tionghoa yang kecuali bertempat tinggal di kota itu juga telah memeluk agama Islam.
Kecuali Demak, maka Cirebon, Lasem, Tuban, Gresik dan Surabaya merupakan kota-kota lain yang bisa kita sebut, yang mempunyai penduduk orang-orang Tionghoa yang kita maksudkan dan benar-benar sangat menarik perhatian, di antara orang-orang Islam Tionghoa itu ternyata terdapat sejumlah orang tokoh yang mempunyai kedudukan yang penting, yang nama-namanya hingga sekarang masih sangat terkenal dalam lembaran sejarah tanah Jawa, seperti Endroseno, panglima angkatan perang Sunan Giri yang terakhir, Pangeran Hadiri alias Sunan Mantingan dan Nyai Gede Pinatih, ibu angkat Sunan Giri.
Dalam lembaran sejarah tanah Jawa Pangeran Hadiri dikenal sebagai suami Ratu Kalinyamat, raja Wanita Jepara yang pernah menyerang bangsa Portugis di Malaka pada tahun 1574.
Menurut penuturan Serat Kandaning Ringgit Purwa Naskah KBG Nr. 7 pada awal mulanya Pangeran Hadiri adalah seorang juragan Tionghoa yang datang ke tanah Jawa membawa tiga buah kapal jung yang memuat barang-barang dagangan dari negeri Tiongkok. Dalam naskah sejarah itu ia disebut dengan nama juragan Wintang. Sayang sekali, sampai di Ujung Elor kapal-kapalnya telah tenggelam, sedang orang-orang Tionghoa yang berada di dalamnya meninggal. Waktu sampai di daratan, juragan Wintang merasa malu pada orang-orang Tionghoa yang telah bertempat tinggal di tanah Jawa. Hatinya merasa sedih. Harta bendanya sudah hilang. badannya rusak, hatinya sakit, sedang isterinya juga tidak tersua. Juragan Wintang pergi ke sana ke mari tidak tentu arah tujuannya, pikirannya sangat kusut, hingga akhirnya sampai ke suatu tempat bernama Jung Mara(sekarang Jepara). Di tempat itu juragan Wintang bertapa mati raga. Selama bertapa, juragan Wintang bermimpi mendengar suara yang memberinya wangsit, jika sekiranya ingin mendapatkan kembali hartanya, hendaknya memeluk agama Islam pada Sunan Kudus dan melakukan semua perintahnya. Setelah terjaga dari tidurnya, juragan Wintang cepat-cepat pergi ke Kudus. Setelah berjumpa dengan Sunan Kudus, juragan Wintang segera memberikan takzim dan hormat. Sunan Kudus menanyakan maksud kedatangannya. Juragan Wintang menjawab sambil menyembah dengan menggunakan bahasa Tionghoa. Beruntung sekali Sunan Kudus mempunyai seorang murid bangsa Tionghoa, Ki Rakim namanya, yang kemudian bertindak menjadi juru bahasa. Begitu Sunan Kudus mengetahui maksud kedatangan juragan Wintang. Sunan Kudus mempersilahkannya memeluk agama Islam dan menjadi muridnya. Selanjutnya juragan Wintang diberi nama Rakit dan mendapat perintah untuk bertempat tinggal di pinggir sungai Kalinyamat. Lama-kelamaan tempat tinggalnya menjadi sebuah desa yang oleh Sunan Kudus dinamakan Kalinyamat.
Dari banyak versi Babad Tanah Jawi kita ketahui, Juragan Wintang akhirnya kawin dengan salah seorang puteri dari kerajaan Demak, yang dalam naskah Hikayat Hasanuddin disebut Ratu Arya Jepara atau Ratu Pajajaran, sedang dalam naskah-naskah babad di Jawa Tengah disebut Ratu Kalinyamat, puteri Pangeran Trenggana.
Di kalangan masyarakat Jawa, Ratu Kalinyamat merupakan seorang tokoh sejarah yang sangat terkenal, yang muncul dalam panggung sejarah tanah Jawa waktu di Demak terjadi kemelut penggantian takhta kerajaan.
Menurut Babad Tanah Jawi, jenis edisi Meinsma Raden Patah meninggalkan enam orang putera, yang pertama seorang puteri yang kawin dengan Pangeran Cirebon, lalu Pangeran Sabrung Lor, Pangeran Seda Lepen, Raden Trenggana, Raden Kanduruwan dan Raden Pamekas. Setelah Raden Patah meninggal, ia digantikan oleh Pangeran Sabrang Ler dan setelah Pangeran Sabrang Ler meninggal, ia digantikan oleh Raden Trenggana, oleh karena Pangeran Seda Lepen telah meninggal, dibunuh oleh Sunan Prawata, putera Raden Trenggana, yang mempunyai ambisi menjadi raja di Demak. Akan tetapi, sebagai balasan, di belakang hari Sunan Prawata telah dibunuh oleh Rungkud, utusan Arya Panangsung, putera Pangeran Seda Lepen.
Ratu Kalinyamat yang merupakan saudara perempuan Sunan Prawata merasa sangat tidak bisa menerima kematian saudaranya. Dengan disertai suaminya, ia kemudian pergi ke Kudus, dengan maksud mohon peradilan pada Sunan Kudus. Akan tetapi, usahanya tidak berhasil. Kata Sunan Kudus: "Kakakmu sudah berhutang pati pada Arya Panangsang. Sekarang berarti telah membayar hutangnya." Begitu mendengar kata-kata itu, Ratu Kalinyamat sangat sakit hatinya. Ratu Kalinyamat pulang kembali ke tempat kediamannya, akan tetapi sampai di tengah jalan telah dicegat oleh utusan Arya Panangsang, sedang suaminya dibunuh.
Ratu Kalinyamat sangat sedih hatinya. Kalau belum lama ia telah kematian saudara, sekarang suaminya telah meninggal pula.
Oleh karenanya Ratu Kalinyamat merasa sangat prihatin, hingga memutuskan pergi bertapa telanjang di gunung Dana Raja, sedang yang dipakai sebagai kainnya tidak lain rambutnya yang diurai panjang. Di samping itu Ratu Kalinyamat juga bersumpah, selama hidupnya tidak akan menggunakan kain, jika Arya Panangsang belum meninggal, dan pada siapa saja yang berhasil membunuhnya, Ratu Kalinyamat akan mengabdi kepadanya, sedang semua harta miliknya akan diserahkan.
Menurut Babad Tanah Jawi edisi Meinsma, Ratu Kalinyamat akhirnya mendapat kesanggupan dari Sultan Pajang Hadiwijaya yang masih adik iparnya sendiri untuk membunuh Arya Panangsang. Untuk keperluan tersebut Sultan Pajang lalu mengeluarkan sayembara pada semua abdinya, barang siapa bisa membunuh Arya Penangsang akan diberi ganjaran negeri Pari dan Mataram. Sekalipun demikian, di antara sekian banyak bupati dan mantrinya ternyata tidak ada seorang- pun juga yang menyanggupinya, oleh karena mereka merasa takut pada Arya Panangsang.
Sultan Pajang selanjutnya mengeluarkan pengumuman ditujukan pada semua penduduknya, baik yang bertempat tinggal di ibu kota kerajaannya maupun yang bertempat tinggal di dusun-dusun mengenai hal yang sama. Sekalipun orang yang bersangkutan seorang penyabit rumput, sekiranya memang bisa membunuh Arya Penangsang akan diberi ganjaran negeri Pati dan Mataram. Akan tetapi, yang berhasil membunuh Arya Panangsang ternyata Raden Ngabehi Loring Pasar, putera angkat Sultan Pajang sendiri, yang di belakang hari terkenal dengan nama Panembahan Senapati, pendiri kerajaan Mataram.
Setelah meninggal, Ratu Kalinyamat dimakamkan di Mantingan, bersanding dengan suaminya. sedang tidak jauh dari makamnya terdapat makan seorang patih Tionghoa, yang menurut tradisi, pada masa hidupnya menjadi patih Ratu Kalinyamat.
Seperti halnya Pangeran Hadiri, suami Ratu Kalinyamat, maka Nyai Gede Pinatih, ibu angkat Sunan Giri, ternyata juga seorang Tionghoa totok.
Bagaimana Kanjeng Sunan Giri sampai mempunyai ibu angkat Nyai Gede Pinatih, menurut Babad Tanah Jawi edisi Meinsma ceriteranya dengan singkat bisa dituturkan sebagai berikut :
Alkisah, pada suatu ketika ada seorang maulana dari negeri Juldah datang ke tanah Jawa bernama Syeh Wali Lanang. Ia mendarat di Ampel Denta dengan maksud untuk bertukar fikiran mengenai "ngelmu" dengan Sunan Ampel yang mempunyai padepokan di tempat itu. Setelah itu ia meneruskan perjalanannya ke sebelah timur dan datang di daerah Blambangan, langsung menuju desa Purwasata.
Pada waktu itu raja Blambangan mempunyai seorang puteri yang tengah menderita sakit keras, tidak ada seorangpun juga yang ber- hasil menyembuhkannya, akan tetapi setelah diobati Syeh Wali Lanang sembuh. Atas kehendak sri baginda, sang puteri kemudian dikawin- kan dengan Syeh Wali Lanang.
Lama-kelamaan Sri baginda diminta Syeh Wali Lanang memeluk agama Islam, akan tetapi sri baginda menolak. Syeh Wali Lanang lalu pergi ke Malaka dengan meninggalkan isterinya yang waktu itu sedang hamil tua.
Sepeninggal Syeh Wali Lanang negeri Blambangan terserang wabah yang dahsyat. Banyak orang meninggal karenanya. Isteri Syeh Wali Lanang melahirkan seorang putera laki-laki dan atas kehendak sri baginda bayi itu kemudian dimasukkan ke dalam peti, dibuang ke laut.
Raja Blambangan mempunyai abdi bernama Ki Samboja. Abdi itu telah terkena bilahi, dimarahi sri baginda, hingga dicopot dari kedudukannya. Abdi itu kemudian pergi ke Majapahit, ingin mengabdi pada raja Majapahit. Permohonannya ternyata dikabulkan, dan bekas abdi raja Blambangan itu diberi kedudukan di Gresik. Setelah meninggal, Ki Samboja meninggalkan seorang isteri yang sangat kaya raya dan banyak barang-barang dagangannya. Arkian, ada salah seorang pedagangnya yang menemukan peti berisi bayi puteri raja Blambangan tersebut di atas. Pedagang itu menyerahkannya pada Nyai Janda Samboja. Jabang bayi itu kemudian dipungut menjadi anaknya, setelah besar disuruh mengaji pada Sunan Ampel Denta. Temannya mengaji putera Ampel Denta sendiri, bernama Santri Bonang. Sedang putera angkat Nyai Janda Samboja itu dinamai Santri Giri.
Sampai di mana kebenaran ceritera Babad Tanah Jawi edisi Meinsma tersebut di atas? Siapakah sebenarnya yang dimaksud Nyai Gede Pinatih itu?
Menurut penelitian yang pernah dilakukan oleh Tan Yeok Seong, seorang sinolog dari South Sea Society di Singapura, Nyai Gede Pinatih ternyata seorang Tionghoa totok, masih keturunan dari Shih Chin Ching, seorang "overlord "Tionghoa di Palembang.
Berdasarkan sumber-sumber sejarah Tionghoa bisa kita ketahui, setelah runtuhnya kerajaan Sriwijaya, daerah Palembang telah dikuasai oleh seorang "overlord" (yang dipertuan besar) Tionghoa bernama Chen Chu Yi, seorang bajak laut yang jahat hatinya. Berkat bantuan Cheng Ho, seorang laksamana Tiongkok pada masa pemerintahan kaisar Chu Ti dari dinasti Ming. Shih Chin Ching seorang penduduk Tionghoa di Palembang telah berhasil menggasak kedudukan Chen Chu Yi, selanjutnya menjadi penguasa baru di Palembang dengan gelar Suan Wei Shi dari Kukang, sebuah nama julukan yang diberikan oleh orang-orang Tionghoa untuk menyebut nama kota Palembang pada masa itu.
Menurut sumber-sumber sejarah dari dinasti Ryukyu, Shih Chin Ching telah meninggal pada tahun 1421 Masehi. Setelah itu di kalangan keluarganya terjadi perebutan kekuasaan.
Shih Chin Ching mempunyai seorang anak laki-laki yang menurut Tan Yeok Seong ada kemungkinan sekali merupakan putera tunggalnya bernama Shih Chi Sun. Di samping itu masih mempunyai dua atau ada kemungkinan tiga orang puteri yakni Pi Na Ti yang paling tua, Er Chieh yang nomer dua dan ada kemungkinan juga isteri Chiu Yan Chen sebagai puterinya yang nomor tiga.
Setelah Shih Chin Ching meninggal, Shih Er Chih tampil se- bagai penguasa baru di Palembang, menggantikan kedudukannya. Akan tetapi Chi Sun telah menentangnya dan mencoba untuk mendapatkan pengakuan sebagai penguasa yang syah dari istana dinasti Ming. Di samping itu, Chi Sun juga mendapat bantuan dari iparnya Chiu Yan Chen.
Untuk mengatasi kemelut itu pada tahun 1424 Cheng Ho telah memerlukan datang ke Palembang, akan tetapi nampaknya ia tidak berhasil memenuhi harapan Chi Sun, oleh karena kita melihat Shih Er Chih tetap memegang kekuasaan, sedang Chi Sun sendiri setelah itu tidak terdengar kabar beritanya, sementara Pi Na Ti, saudaranya yang paling tua, telah pergi meninggalkan Palembang menuju ke tanah Jawa.
Di tempat kediamannya yang baru Pi Na Ti berhasil diangkat menjadi seorang syahbandar oleh raja Majapahit di Gresik. Pada waktu itu jabatan tersebut merupakan sebuah jabatan yang penting oleh karena merupakan jabatan penghubung di antara penguasa dan para pedagang asing, di samping merupakan sebuah jabatan yang memberi kemungkinan untuk mendapatkan banyak penghasilan, kecuali dari bea kapal yang sedang berlabuh juga dari lain-lain keuntungan yang bisa diperoleh dari pemasukan dan pengeluaran barang-barang.
Dan Pi Na Ti inilah yang di kalangan masyarakat pribumi Jawa telah disebut dengan nama julukan Nyai Gede Pinatih, sebuah "verbastering" dari nama aslinya Pi Na Ti, sebagaimana tersebut dalam dokumen-dokumen sejarah dari dinasti Ryukyu.
Posting Komentar