Istilah santri dan abangan memang sangat khas di kalangan suku Jawa. Dalam kehidupan masyarakat Jawa ada suatu klasifikasi atau kelas, baik kelas sosial maupun kelas religius. Klasifikasi sosial masyarakat Jawa terdapat 4 kelompok, yaitu ndara, priyayi, wong dagang atau saudagar dan wong cilik. Sedang klasifikasi religius terdiri atas santri dan abangan. Kedua golongan ini (santri dan abangan) letak perbedaannya pada sampai dimana kebaktian mereka terhadap agama Islam atau ukuran kepatuhan seseorang dalam mengamalkan sarengat (syari'at). Sehingga golongan ini dalam masvarakat Jawa dalam melakukan tindak relisiusnva sangat berbeda sekali.
Santri adalah orang muslim sholeh yang memeluk agama Islam dengan sungguh-sungguh dan dengan teliti menjalankan perintah-perintah agama Islam, sambil berusaha membersihkan aqidah dari syirik yang terdapat di daerahnya. Sedang abangan secara harfiah artinya "yang merah" Istilah ini ditujukan kepada orang muslim Jawa yang tidak seberapa memperhatikan dan mengamalkan perintah-perintah agama Islam dan kurang teliti dalam memenuhi perintah-perintah agama. Jadi abangan bisa dikatakan seorang penganut agama Islam tetapi disamping menjalankan syari'at juga masih menjalankan ajaran atau unsur-unsur kepercayaan pra-Islam, Hindu-Budha, sehingga istilah abangan sering juga dinamakan agama Jawa.
Jadi antara santri dan abangan dibedakan dalam hal sejauh mana mereka memegang kepercayaan agama Islam. Abangan cenderung lebih sinkritis dan santri cenderung lebih Islam yang puritan. Jadi ukuran kereligiusannya itu tentu saja tergantung pada nilai-nilai pnbadi masing-masing orang yang menggunakan istilah-istilah tersebut. Pengertian santri dan abangan dalam hal ini, dapat dianggap sebagai dua subkultur, berpandangan dunia, bernilai dan berhaluan yang berbeda-beda di dalam kebudayaan Jawa.
Kata santri merupakan perubahan kata India "shastri" yang berarti orang yang tahu kitab-kitab suci. Istilah lain untuk kata santri, sebagaimana lazim digunakan oleh orang Jawa ialah kata 'putihan'. Istilah ini muncul karena pada saat menjalankan ïbadah (sholat) biasanya santri ini memakai pakaian serba putih. Dalam perkembangan selanjutnya ada sebuah desa yang disebut dengan "Desa Putihan" atau desa Mutihan. Di mana desa tersebut didiami oleh mayoritas masyarakat yang tergolong dalam klasifikasi kaum santri, sedangkan sebutan untuk kota yang demikian (permukiman di sekitar masjid) biasanya disebut kauman. Itulah pengertian dari istilah santri dan abangan yang sebenarnya dibedakan pada kepatuhan menjalankan agama.
Posting Komentar