Tol Laut Guangdong - Sriwijaya Pada Abad Ketujuh

Nusantara dengan hasil hutan dan rempahnya, sudah lama dikenal di mancanegara. Bermula dari saudagar India, Persia, dan Arab yang datang mencari hasil hutan sebagai bahan pewangi. Disusul kemudian saudagar Tionghoa mencari komoditi yang sama dengan pendahulunya. Mereka datang melayari perairan Nusantara sejak awal millenium pertama tarikh Masehi. Tujuannya sama, yaitu ke Sumatra yang lebih dikenal dengan nama Swarnnabhumi (Bumi Emas) atau Swarnnadwipa (Pulau Emas) untuk mencari hasil hutan (damar, kemenyan, dan kapur harus).


Dalam usahanya mencari hasil hutan tersebut, para saudagar Tionghoa berangkat dari Kanton (Guangdong) menyusuri pantai Indocina, masuk Selat Melaka, berputar di ujung baratlaut Sumatra, menyusuri pantai barat Sumatra, dan akhirnya tiba di Barus. Ada juga yang langsung dari Kanton ke Sriwijaya (Palembang), kemudian melanjutkan pelayarannya ke Selat Melaka atau ke arah timur menuju Mataram (Jawa). Sementara itu para saudagar India, Persia, dan Arab langsung dari pantai Koromandel di India menuju Barus. Barus memang sudah lama dikenal sebagai bandar tempat memasarkan kapur barus. Hasil hutan ini hanya dapat tumbuh dengan kualitas yang baik di hutan-hutan Sumatra Utara.


Pada milenium pertama ini, bandar-bandar yang dikenal adalah Barus di pantai barat Sumatra, Kedah di pantai barat Semenanjung Tanah Melayu, Palembang di pantai timur Sumatra. Bandar-bandar ini dikenal sebagai tempat pemasaran barang komoditi yang sangat digemari pada saat itu. Sedikit diberitakan bahwa di bandar-bandar ini dijual juga rempah-rempah dan yang utama adalah lada. Lada dihasilkan di Sumatra Selatan, Bangka, dan Jawa bagian barat (Banten).


Data sejarah dan arkeologi menginformasikan pada kita bahwa para saudagar tersebut "menjelajah" sampai di bagian tengah Nusantara, yaitu di pantai utara Jawa serta pantai timur Kalimantan. Hanya sedikit yang memberitakan sampai ke wilayah timur (Ternate, Tidore, dan Banda). Sebuah berita Tionghoa memberitakan ada saudagar Tionghoa yang sudah sampai ke kawasan penghasil rempah melalui jalur utara melewati kepulauan Filipina dan tiba di Ternate.


Jalur pelayaran dan niaga diperluas lagi ke arah timur, yaitu ketika Majapahit melakukan hubungan dagang dengan daerah-daerah lain di Nusantara. Nagarakertagama menyebutkan beberapa daerah di kawasan timur Nusantara yang melakukan hubungan dagang dengan Majapahit. Daerah-daerah tersebut antara lain di Sulawesi Selatan, Nusatenggara, sampai ke Maluku. Pada saat ini diduga perdagangan rempah dilakukan secara estafet dari satu bandar ke bandar lain. Pada akhirnya rempah tersebut dipasarkan di Melaka, yang pada sekitar abad ke-15-16 telah tumbuh menjadi bandar antarbangsa.


Pada awalnya rempah-rempah diangkut dari Maluku secara bertahap. Untuk sampai di pasaran Eropa tentu saja memakan waktu yang lama. Dari Maluku Utara rempah ini dibawa ke Hitu dan Banda. Dari bandar-bandar ini kemudian dibawa ke Nusantara Barat melalui pesisir utara Jawa, patai timur Sumatra, dan akhirnya ke Melaka. Sumbawa pada waktu itu sudah merupakan bandar penting. Dari tempat ini dihasilkan beras untuk dijual ke Melaka dengan singgah di Banjarmasin dan Gresik. Pasokan beras terhenti karena letusan Gunung Tambora pada tahun 1815. Pada waktu itu seluruh daratan Sumbawa tertutup abu gunung.


Pada sekitar abad ke-15-16 para saudagar Portugis dan Spanyol telah memasuki perairan Nusantara. Basis mereka ada di bandar Goa (India). Setelah 1511, ketika Portugis berhasil menduduki Melaka, maka Melaka menjadi basis operasinya. Dari Melaka para saudagar Portugis melakukan pelayaran langsung ke Maluku (Ternate dan Tidore). Dengan demikian abad ke-15-16 merupakan abad perdagangan rempah. Jalur-jalur pelayaran dan niaga sudah banyak. Di sepanjang jalur pelayaran tersebut timbul bandarbandar penting.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama