Pada pagi harinya tanggal 12 Rabiulawal, (inilah hari Grebeg), penduduk kota maupun desa pagi-pagi benar sudah banyak yang bangun, dan setelah mandi dan bersih-bersih lainnya, lalu memakai pakaian yang baru untuk pergi ke Kota (alun-alun Utara) ingin menyaksikan upacara Grebegan.
Para abdi-dalem (hulu-balang), kerabat sentana, keluarga radja, pun telah berkemas-kemas dengan memakai pakaian adat upacara sendiri menurut golongan dan kedudukannya. Para abdidalem prajurit (pasukan kraton), dari pagi-pagi sudah bersiap-siap dengan memakai uniform keprajuritan(ketentaraan), dan berkumpul menuju ke rumah Komandan (Kumendaman), selanjutnya diatur dalam barisan menurut urutan yang telah ditetapkan.
Disini perlu kita terangkan bahwa Kraton ini mempunyai pasukan yang besarnya kira-kira saja satu batalion. Jumlah ini, sesungguhnya terlalu sedikit, tetapi hal ini adalah akibat pengurangan dari pihak penjajah pada waktu dahulu, yang sesungguhnya pasukan Kraton adalah lebih banyak lagi. Pasukan itu terdiri dari 8 kompi, antara lain ialah: Wirabradja , Daheng, Patangpuluh, Djagakaria, Prawiratama, Njutra, Ketanggung, Mantridjero.
Lain daripada itu masih ada lagi pasukan-pasukan yang tidak termasuk dalam barisan dibawah komandan batalion, melainkan dibawah bagian lain, jakah Djager dan Hastra. Juga pasukan2 Surakarsa, Bugis dan Langenastra tidak masuk dalam barisan Batalion.
Adapun uniform yang dipakainya, sangat beraneka warna, seperti uniform pasukan Istana dari kerajaan Inggris, ada yang merah jingga, wungu, hitam, kuning , putih, dengan celana pendek maupun panjang, ada yang memakai sepatu dengan laeas sampai lutut, tetapi ada pula yang tidak bersepatu, sehingga tiap-tiap kompi mempunyai warna uniformnya sendiri-sendiri. Senjata yang dibawa ialah bedil, tombak, tameng, panah, dan ketipung dll. Barisan ini sangat indah dilihat. Pada jam delapan pagi, barisan berangkat menuju Magangan. Kemudian setelah mendapat perintah dari Sri Sultan, pada jam 9 pagi barisan masuk Kraton terus menuju ke alun-alun utara, dan yang sebagian berhenti di Sri Menganti.
Sementara itu pembesar-pembesar Belanda serta bangsa asing lainnya, termasuk pegawai civil/militer, dan orang-orang terkemuka, yang telah lama menunggu diluar istana, maka kini diijinkan masuk ke Kraton untuk menjemput Sri Sultan yang waktu itu duduk di Bangsal Kencana (Serambi Besar dalam Kraton). Setelah itu Sri Sultan beserta tamu-tamunya budal dari Kraton, keluar menuju Siti Hinggil dijajari (digrebeg) oleh para kerabat-keluarga, para Pangeran, Bupati dan para abdi dalem lainnya. Gubernur berjalan disebelah kiri sedang tamu-tamu lainnya dibelakang Sri Sultan.
Posting Komentar