Sejak ratusan tahu yang lalu, hingga kini, tingkat sakti Tunggal Panaluan tetap hidup sebagai keperccayaan adat di tanah Batak, suatu daerah berbukit-bukit subur disekitar Danau Toba, yang lebih lazim disebut dalam kemegahan kata Tapian Na Uli (Tapanuli) yang berarti Pantai yang indah, terletak di utara pulau Sumatra. Konon, kisah bermula pada masa kehidupan si Raja Batak Tuan Sori Mangaraja di suatu kampung bernama Sinajur mula-mula. Tuan Sori Mangaraja selalu masygul hatinya, karena pada waktu itu ia belum dikaruniakan seorang putra. Tersebutlah kabar pada masa itu, datang sepasang remaja yang lahir kemabr, seorang lelaki dan seorang wanita. Si abang bernama Aji Donda Hatahutan, sedang adik kembarnya bernama Boru Sopat Panaluan.
Seluruh masyarakat sekitar kampung itu menganl Ali Donda Hatahutan sebagai seorang peramal (Poraja Boa-boa)m yang dapat memberikan kanar tentang apa yang akan terjadi dimasa-masa yang akan datang. Begitu besarnya pengaruh Aji Donda Hutahutan dikalangan masyarakat wakti itu, hingga ia menjadi salah seorang yang dianggap terhormat. Walau ia telah menjadi seorang terhormat di mata masyarakat namun sebagai manusia, ternyata ia juga tak lepas dari sifat khilaf dan terserang hawa nafsu. Aji Donda Hutahutan bermaksud untuk mengawini adik kembarnya sendiri si Boru Sopat Panaluan. Mengetahui maksud hati sang Ababng, si adik Boru Sopat Panaluan melarikan diri kedalam hutan dan berlindung di sebatang pohon berduri yang bernama Kayu Tada-tada. Semula si adik mengira, tentu abangnya tak akan menyangka kalau ia berlindung di kayu itu karena kayu tersebut penuh berduri. Kalaupun si Abang mengetahuinya, pastilah si Abang tak dapat naik ke batang pohon itu. Apalagi di bawah batang pohon itu terdapat seekor ilik (ular). Konon, ular itu berwarna putih belang-belang, dengan taburan mutiara disekeliling tubuhnya (pinta-pinta); yang dikenal masyarakat sebagai ular Baganding tua. Aji Donda Hatahutan akhirnya mengetahui juga tempat persembunyian adik kembarnya segera dimintanya pertolongan pada seekor tikus sizi, yaitu tikus penarik kayu untuk mengeluarkan Boru Sopat Panaluan. Si tikus melakukannya, tapi tak berhasil, bahkan tubuhnya lekat pada pohon Tada-tada itu. Akhirnya si abang sendiri bertekad menarik sang adik, namun apa yang terjadi, tubuh Aji Donda Hutahutan melekat bersatu dengan batang pohon itu.
Peristiwa melekatnya tubuh Aji Donda Hutahutan ke batang pohon Tada-tada itu, sama sekali belum diketahui oleh Tuan Sori Mangaraja, Si Raja Batak pertama. Hatinya hanya diliputi oleh kemasygulan karena belum dikaruniakan putra. Begitulah, suatu ketika Tuan Sori Mangaraja memanggril seorang tua yang pintar (duku) untuk memberikan obat, agar ia dapat memperoleh putra.
Untuk obat itu, si orang tua mengarakan harus mencari minyak dari ular Baganding Tua. Ular itu bisa diperoleh di dalam hutan. Tuan Sori Mangaraja lalu mengutus seorang pengetua (ketua suku) mencarinya ke dalam hutan, dan ditemukanlah Baganding Tua itu berada di batang pohon Tada-tada dimana tubuh Aji Donda Hutahutan juga melekat. Kayu dan ular dibawa pulang ke kampung, dan diadakanlah pesta upacara gondang yang disebut Mandudu. Beberapa waktu setelah upacara itu, istri Tuan Sori Mangaraja pun hamil, yang kemudian melahirkan putra-putra yang berturut-turut adalah Tuan Sorba di Julu, Tuan Sorba di Jae, dan Tuan Sorba di Banua, dari ketiga putra-putra inilah kemudian turunnya silsilah Raja Batak hingga saat ini. Tuan Sori Mangaraja adalah yang perta akali memakai tongkat Tunggal Panaluan, sebagai tongkat sakti keselamatan dan keberhasilannya dalam menjalankan tugas.
Menurut keperccayaan, sebagai penjelmaan Aji Donda Hutahutan si Poraja Boa-boa, tongkat ini dapat ditanya melalui perantara seorang duku, untuk memberikan kabar tentang hal-hal yang akan terjadi kemudian, setelah melaksanakan upacara gondang terlebih dahulu. Dan setelah melalui kurun waktu yang sedemikian panjang, dan berkembangnya kemajuan-kemajuan jaman yang mendesak terus kepercayaan-kepercayaan adat daerah, masyarakat tanah Batak masih tetap percaya, dan menjadikan tongkat Tunggal Panaluan ini sebagai lambang keselamatan dan sukses seorang pemimpin. Karena itulah, ketika Presiden Soeharto berkenan meresmikan Pekan Penghijauan Nasional ke XV di lembah Lumban Julu bulan November lalu bersama perdana Menteri Malaysian Tun Abdul Razal, Raja Sipakko Napitupilu atas nama masyarakat Tanah Batak telah mempersembahkan Tunggal Panaluan pada kedua pemimpin bangsa rumput Melayu itu, dalam suatu acara adat disertai pemberian ulos ragi hidup dan penaburan besar sipirnitondi, agar keduanya diberi kekuatan semangat dan diridjoi tuhan dalam menjalankan tugas-tugasnya memimpin bangsa.
Posting Komentar